Sabtu, 18 Agustus 2012

Pulang Kampung

Ramadhan sebentar lagi berakhir,tp nggak boleh sedih ya...ibadah yang udah lumayan kenceng jangan kendor lagi. Menutup Ramadhan dengan pulang ke kampung halaman adalah hal yang sangat membahagiakan. Ramainya jalan raya saat mudik, berkumpul dengan keluarga, makan enak setelah sholat ied, berkunjung ke sanak keluarga. Hal kecil yang sangat indah untuk diulang setiap tahunnya.
Hari pertama sampai di kampung halaman, dua keponakanku langsung menyerbu dengan berbagai pertanyaan. "Baju baruku mana tante?",sikecil langsung menodongku dengan pertanyaan pertamanya. "Jam tanganku mana tante?", di sambung suara sang kakak yang merajuk. untuk pertanyaan sang adik kujawab,"waduh,maaf tante lupa bawa sayang!masih ketinggalan di toko". Tanpa Berucap apapun dia berlalu dari hadapku. Dan untuk pertanyaan sang kakak, kujawab "bantu-bantu mbah putri dulu,nanti baru tante kasih lihat".
Saat semua sedang asik membantu ibuku di dapur,si kecil datang dengan wajah muram lalu bertanya,"Tante,masa tante beneran lupa sama bajuku?". Langsung saja semua yang didapur tertawa. Firasat si kecil ini kuat sekali sampai secepat itu dia sadar kalau dibohongi.
Setelah pekerjaan dapur selesai, ayah,ibu,kakak dan keponakan semuaya duduk diruang keluarga sambil menunggu saat berbuka tiba. Melihat rambut,alis,dan kumis ayahku yang sudah dominan dengan warna putih,spontan aku berkata,"alisnya ayah mirip sama copetong (salah satu tokoh di serial yang terkenal dengan yokonya) ya bu?",tanyaku pada ibu. semua langsung tertawa mendengar candaanku.
Meski sempat bercanda begitu, rambut ayah yang semuanya berubah menjadi putih,membuatku berdoa dalam hati,semoga ayah selalu diberikan kesehatan Ya Allah,agar hamba bisa segera mewujudkan keinginan beliau untuk sholat di masjidil haram dan masjid nabawi. Melihat wajah beliau yang semakin renta jelas membuatku sedih,tapi juga membuatku bersemangat untuk segera mewujudkan keinginan beliau.
Diwaktu berbeda,saat sedang berdua dengan ibu aku memegang tangan beliau. Sambil ku elus,aku berkata "bu,kulitnya kok sudah kelihatan keriput ya?". Ibu langsung menjawab,"ya kan ibu sudah tua". Dalam hatiku rasanya ngilu mendengar jawaban ibu. Langsung saja pikiranku dipenuhi perkataan ibu pagi tadi agar aku ikut kerumah mbah putri dua hari setelah lebaran. Tapi pagi tadi aku rasanya berat sekali untuk berkata ya pada ibu karena alasan rumah mbah putri yang cukup jauh dan berbeda propinsi dengan kami. Namun, setelah menggenggam tangan dan mengobrol dengan ibu juga mengingat wajah ayah yang sudah berambut putih dan pikun,membuatku bertanya pada diriku sendiri,"apa aku tega melihat mereka berangkat berdua saja kerumah mbah putri?". Lalu ku mantapkan hati untuk ikut berangkat kerumah mbah putri. Kalau bukan aku,siapa yang akan menjaga orang tuaku yang sudah mulai renta. Akhirnya, kuminta ijin partner tercinta untuk menggunakan sedikit uang tabungan kami. Dan Alhamdulillah aku memiliki partner yang luar biasa pengertian sehingga bila saatnya tiba,aku bisa menemani orang tuaku dengan perasaan tenang,ikhlas dan tentu saja bahagia yang tiada habisnya di hari yang fitri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar